Metrotvnews.com: Sejumlah ekonom melihat bahwa pemerintah perlu melakukan langkah serius untuk mengatasi defisit neraca perdagangan yang terus membengkak. Sebab, kondisi ini akan menekan transaksi berjalan dan meningkatkan volatilitas nilai tukar rupiah.
Hal tersebut ditegaskan oleh Kepala Ekonom PT Bank Internasional Indonesia (BII) Juniman, dan ekonom dari Universitas Gajah Mada Sri Adiningsih. Juniman memaparkan bahwa defisit perdagangan ini disebabkan oleh masih kuatnya impor migas dan nonmigas. Penyebabnya adalah kebijakan yang dijalankan pemerintah tumpang tindih.
Ia mencontohkan, pemerintah menaikkan harga BBM untuk menurunkan konsumsi migas. Akan tetapi, regulator fiskal itu mengeluarkan kebijakan mobil murah yang akhirnya mendorong kembali konsumsi BBM.
"Impor migas naik. Saya pesimis defisit migas berkurang, berpotensi berlanjut," ujar dia.
Kemudian, impor non migas yang naik, sehingga surplusnya menipis. Tingginya impor nonmigas itu terutama pangan dan bahan baku. "Surplus non migas yang menipis ini berbahaya, gimana bila jadinya defisit juga, tentu akan membengkakan neraca perdagangan," tegas dia.
Sri Adiningsih menambahkan masih tingginya impor migas karena masih ketergantungannya aktivitas ekonomi pada energi fosil itu. Pemerintah belum mampu menyediakan energi terbarukan.
"Investasi di sektor migas juga masih kecil karena kebijakan pemerintah tidak menarik bagi investor. Sehingga sektor migas dianggap kurang menguntungkan," tutur dia.
"Kalau investasi di energi terbarukan harus pemerintah yang turun investasi secara penuh, negara-negara maju melakukan hal tersebut," tambah dia.
Baik Sri maupun Juniman berpendapat bahwa defisit perdagangan yang terus membengkak ini akan berdampak pada transaksi berjalan. Sehingga kondisi ini akan memengaruhi neraca pembayaran Indonesia.
Transaksi berjalan diproyeksikan berada pada kisaran 3,3-3,7% hingga akhir tahun. "Besaran defisit itu dipandang berbahaya, lampu kuning. Karena normalnya defisit inflasi pada kisaran 2%," tegas Juniman.
Selain itu, kondisi ini juga akan memberi tekanan terhadap pergerakan rupiah. Nilai tukar akan berpotensi kembali melemah. "Volatilitas nilai tukar akan kembali melebar. Kalau BI menjaga nilai tukar melalui intervensi, maka akan gerus cadangan devisa. Tetapi kalau dibiarkan maka akan berdampak pada inflasi," papar Sri.
Keduanya melihat bahwa upaya Bank Indonesia terbatas dalam mengendalikan defisit neraca perdagangan. Kondisi ini bergantung pada upaya pemerintah.
Defisit neraca perdagangan yang semakin membengkak ini kembali memberi tekanan di pasar uang dan pasar modal Indonesia. Nila turar rupiah hingga penutupan perdagangan di spot valuta asing antar bank berada di level Rp11.335, turun 0,5% dibandingkan kemarin. Sementara Indeks Harga Saham Gabungan juga melemah 1,7% ke level 4.432. (Daniel Wesly Rudolf)
Editor: Deni Fauzan