Metrotvnews.com, Jakarta: Langkah Bank Indonesia yang kembali menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin dinilai reaktif. Sebab, kebijakan menaikkan suku bunga tidak akan mengurangi defisit transaksi berjalan atau current account/CA, tetapi justru memukul perekonomian nasional secara luas.
Guru Besar Ekonomi dari Universitas Gajah Mada Tony A. Prasetiantono mengatakan bahwa penaikan BI rate akan berdampak positif bagi pergerakan nilai tukar mata uang. Rupiah berkesempatan menguat.
Akan tetapi, penguatan nilai tukar justru akan memukul daya saing produk Indonesia. Dampaknya, kinerja ekspor akan kembali tertekan. Dengan pelemahan ekspor di tengah impor migas yang tinggi, defisit perdagangan akan membengkak.
"Akibatnya defisit transaksi berjalan justru akan cenderung stagnan atau malah membesar, bukan membaik seperti yang diklaim BI," ujar Tony melalui telepon, Selasa (12/11).
Usai rapat dewan gubernur (RDG), Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan kembali BI rate sebesar 25 bps menjadi 7,5 persen. Di samping itu, otoritas moneter itu menaikkan suku bunga lending facility dan deposit facility sebesar 25 bps menjadi secara berurutan 7,5 dan 5,75 persen. (Daniel Wesly Rudolf)
Editor: Wisnu AS