Rupiah anjlok, Menkeu jamin tidak akan krisis
Giri Prakosa
Kamis, 25 Juli 2013 − 13:11 WIB

Ilustrasi/Ist
Sindonews.com - Meski ada kecenderungan meningkatkan kebutuhan mata uang asing, khususnya dollar AS, dalam beberapa waktu terakhir, Menteri Keuangan (Menkeu) Chatib Basri menjamin, Indonesia tidak akan mengalami krisis bahkan sampai kekeringan likuiditas.
"Pemerintah menyadari bahwa perekonomian global yang cenderung belum stabil akan menimbulkan gejolak di pasar keuangan. Namun, pemerintah berupaya menjamin guncangan tersebut seminimal mungkin dengan mengamankan likuiditas valuta asing," kata Chatib Basri sebagaimana dikutip situs Kementerian Keuangan, Kamis (25/7/2013).
Chatib menilai, langkah pemerintah yang gencar menerbitkan Surat Utang Negara (SUN) telah mampu mencegah kekeringan likuiditas. Menurut Menkeu, serapan pasar terhadap SUN masih lebih baik di tengah ketidakpastian global.
"Kalau cadangan dari forex-nya ada di sini, kekeringan likuiditas mungkin bisa dihindari. Krisis itu mulainya dari likuiditas yang kering. Jadi, itu sudah mulai dilakukan," ungkap Chatib.
Ia menambahkan, untuk mempertebal kembali pasar forex, Kementerian Keuangan akan melakukan koordinasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan kerja sama dengan Bank Indonesia (BI).
"Karena pasar forex kita tipis, jadi bagaimana kerja sama dengan BI agar efeknya tidak berdampak jauh," jelas Menkeu.
Chatib juga mengingatkan perlunya membenahi ekonomi domestik, mengingat adanya ancaman inflasi yang tinggi. Tingginya ekspektasi inflasi ini dikhawatirkan akan membuat nilai tukar rupiah terdepresiasi.
"Jadi kalau dilakukan dengan baik, ekspektasi inflasi turun, maka depresiasi rupiah akan mengecil, tekanan bond mengecil. Jadi pressure nilai tukar enggak terlalu tinggi, dan dari sisi nilai tukar sudah menunjukkan gesture-nya untuk menaikkan inflasi rate," pungkasnya.
(
gpr)