Metrotvnews.com, Denpasar: Tidak hanya menguras anggaran belanja dan pendapatan negara (APBN), subsidi yang diberikan pemerintah terhadap bahan bakar minyak juga berdampak pada perkembangan energi baru terbarukan di Indonesia.
Oleh karena itu, pemerintah harus segera menyiapkan langkah strategis untuk menggantikan energi berbasis fosil tersebut.
"Minyak harusnya sudah digantikan dnegan 'renewable energy', " kata Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Herman Darnel Ibrahim saat ditemui di Hotel Ayodya, Nusa Dua, Bali, Selasa (1/10)
Subsidi BBM sendiri pada tahun ini dialokasikan sebesar Rp 200 triliun, dengan volume BBM subsidi dialokasikan sebanyak 48 juta kiloliter. Jumlah tersebut selalu meningkat seiring dengan tren penjualan kendaraan bermotor.
Ia mengatakan bahan bakar minyak yang terus disubsidi oleh pemerintah menjadi penyebab lambatnya pengembangan EBT di Indonesia. Pasalnya, masyarakat lebih memilih bahan bakar yang lebih murah.
Herman mengatakan, akan lebih baik jika subsidi BBM dialihkan untuk pengembangan energi baru terbarukan, ketimbang menambah beban APBN setiap tahunnya. "APBN akan jebol dan sedikit kemampuan untuk bangun EBT," ucap Herman.
Ia mengusulkan pembuatan konsensus internasional untuk mengurangi subsidi BBM dan menggantinya dengan energi alternatif. "Misalnya mengganti BBM dengan gas, tapi Indonesia fokus pada penggantian energi fosil dengan batu bara dan EBT. Menurunkan cost renewable energy dan menaikan cost dari energi fosil," kata Herman.
Pandangan senada juga dikemukakan Presiden Asia Pacific Energy Research Centre (APERC) Takato Ojimi. Ia mengatakan, harga BBM disuatu negara yang lebih murah ketimbang harga pasar justru akan merugikan.
Pasalnya, hal tersebut justru memicu pertumbuhan emisi karbon yang lebih tinggi, serta menciptakan peluang penyelundupan dan korupsi tetap berlanjut. "Meski tujuannya untuk bantu masyarakat miskin, tapi tidak tepat sasaran dan kesempatan pada penyelendupan dan korupsi," kata Takato.
Editor: Edwin Tirani