Rupiah anjlok ke level Rp11.649/USD
J Erna
Kamis, 5 September 2013 − 16:38 WIB

Ilustrasi
Sindonews.com - Posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) sore ini ditutup anjlok hampir menembus level Rp11.650/USD seiring memerahnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Berdasarkan data Bloomberg sore ini, rupiah berada di level Rp11.649/USD atau anjlok signifikan sebesar 238 poin dibanding Kamis (4/9/2013) di level Rp11.411/USD. Rupiah melemah sejak pagi tadi, dimana pada pukul 09.50 WIB berada di level Rp11.595/USD dan pada pukul 12.25 WIB, bergerak ke level Rp11.585/USD.
Sementara posisi rupiah berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), Bank Indonesia (BI) pada penutupan perdagangan Kamis (5/9/2013) menuju level Rp11.125/USD, melemah sebesar 32 poin dibanding hari kemarin di level Rp11.093/USD.
Sedangkan data yahoofinance mencatat, mata uang domestik berada di level Rp11.105/USD dengan kisaran Rp11.125/USD. Posisi ini melemah 95 poin dibanding penutupan sore kemarin yang berada di level Rp11.030/USD.
Data Sindonews bersumber dari Limas mencatat rupiah pagi hari ini diperdagangkan pada harga Rp11.108/USD atau terdepresiasi 75 poin dibanding sore kemarin di harga Rp11.033/USD.
Head of Research & Analysis BNI Nurul Eti Nurbaeti mengatakan, melemahnya rupiah karena masih tingginya permintaan dolar oleh korporasi di tengah terbatasnya suplai dolar. Di samping itu, melemahnya IHSG pada penutupan sore ini juga turut memberi tekanan terhadap rupiah.
Sementara lelang pembelian kembali dengan cara penukaran debt switch untuk obligasi FR0070 bertenor 11 tahun dengan obligasi bertenor pendek enam tahun, yang dimiliki pemegang obligasi di pasar sekunder tidak mampu meredakan tekanan terhadap rupiah.
Sementara Kepala Riset Trust Securities Reza Priyambada menyatakan, laju rupiah memang masih dalam tren melemah karena sentimen negatif yang terus beredar di pasar.
"Ditambah masih belum nampaknya pengaruh dari kebijakan moneter dan fiskal yang diterapkan pemerintah," ujarnya.
Rilis membaiknya data-data manufaktur dan construction spending Amerika Serikat (AS) juga memberikan persepsi bahwa tappering off stimulus The Fed pasti akan terjadi, sehingga membuat pasokan USD berkurang dan berimbas pada naiknya nilai tukar USD.
(
rna)