Metrotvnews.com, Jakarta: Para petani di beberapa provinsi mendesak pemerintah untuk menerapkan bioteknologi. Apalagi dengan adanya anomali cuaca dan faktor lain yang dapat menurunkan produksi tanaman pangan.
"Anomali cuaca sekarang benar-benar merepotkan, petani sudah tidak bisa menebak lagi kapan waktu yang pas untuk menanam," kata Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jember sekaligus Wakil Ketua KTNA Jawa Timur Muhsin di Jakarta, Rabu (25/9).
Selain itu luas lahan juga dikatakannya semakin berkurang. Data BPS yang dimiliki Muhsin menyebutkan sekitar 100 ribu hektare sudah tidak bisa ditanami lagi setiap tahunnya. Sementara setiap hektare lahan sebenarnya dapat mampu memproduksi dua ton benih bioteknologi.
Di Indonesia seorang petani biasanya mampu menggarap lahan 0,3 hektare dan jika ada permintaan, misalnya dari Filipina, dibutuhkan lahan empat ribu hektare yang harus digarap oleh 12 ribu petani. Artinya ketersediaan lahan juga menjamin penciptaan lapangan pekerjaan.
"Hal lain yang bisa diantisipasi melalui bioteknologi adalah stok pangan yang diprediksi minus pada 2030. Kemudian mendukung kesiapan petani jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN pada 2015," tutur Muhsin.
Sementara perwakilan KTNA Lampung Kaslan mengatakan dengan diterapkannya bioteknologi, petani juga diuntungkan dari segi pendapatan. Jika melihat data dari survei IPB, penerapan bioteknologi untuk jenis jagung bisa meningkatkan pendapatan sebesar Rp2,4 juta per musim panen dan hemat biaya produksi Rp1,5 juta per panen.
Ketua Divisi Pakan Ikan dan Udang GMPT Danni Indrajaya mengatakan pemerintah sampai saat ini belum memperdebatkan efek bioteknologi terhadap lingkungan dan kesehatan. "Dua hal itu masih mentok. Dan sebenarnya itu juga masih diributkan di tataran global," pungkas Danni.
Editor: Retno Hemawati