Metrotvnews.com, Jakarta: Pelemahan nilai tukar rupiah dapat menahan laju impor sehingga nantinya memangkas defisit neraca transaksi berjalan Indonesia.
Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan Mirza Adityaswara mengungkapkan hal itu di Jakarta, Senin (23/9).
"Saat ini kita hidup di mana ketika rupiah menguat terlihat menjadi hebat. Sebenarnya kondisi itu bisa berbahaya karena akan membuat impor meningkat dan menarik utang dalam denominasi dolar AS," ujar Mirza seusai Seminar Internasional HUT LPS ke-8 di Jakarta, Senin (23/9).
Ia mengemukakan bahwa rupiah sempat berada di level Rp9.500 per dolar AS dan suku bunga Fasilitas Simpanan Bank Indonesia (Fasbi rate) berada di 3,75 persen, kondisi itu menunjukkan gejala kelebihan nilai (over value).
Akibatnya, impor melonjak karena importir membeli bahan atau barang menjadi relatif murah. Ia mengatakan jika nilai tukar diarahkan bergerak melemah, barang impor akan menjadi mahal sehingga pelaku usaha akan mengurangi impornya dan dapat mendorong ekspor. Pelaku industri juga akan mengurangi pinjaman luar negeri karena valuta asing mahal.
Mirza meminta kepada masyarakat untuk tidak terlalu khawatir menghadapi gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, karena mata uang domestik akan menuju ekuilibrium baru.
"Kalau kita sudah bisa mengatasi defisit di neraca Indonesia, dan mengurangi utang dolar AS maka nanti rupiah akan menguat pelan-pelan. Jangan khawatir, karena level rupiah saat ini sedang mencari ekuilibrium baru, kalau rupiah menguat bisa 'unstability'," kata dia.
Meski demikian, lanjut dia, regulator perlu menjaga pergerakan rupiah agar fluktuasinya tidak terlalu tinggi. (Antara)
Editor: Agus Tri Wibowo