Ekonom: Inflasi RI tetap tinggi 8,79%
Rabu, 11 September 2013 − 17:22 WIB

Ilustrasi/Foto: Istimewa
Sindonews.com - Ekonom Treasury & Capital Market, PT Bank Danamon, Carrington Clark mengatakan, inflasi di Indonesia tetap tinggi 8,79 persen year-on-year (yoy). Namun, tekanan pada inflasi surut meskipun beberapa tekanan baru datang pada harga pangan.
"Apa yang kita perlu waspadai saat ini adalah hasil dari pertemuan FOMC pada September dan bagaimana hal itu akan mempengaruhi pasar. Namun, secara keseluruhan outlook tidak boleh terlalu redup, karena ekonomi China diperkirakan akan menunjukkan tanda-tanda perbaikan yang positif bagi kinerja ekspor," ujar Clark dalam keterangan tertulisnya, Rabu (11/9/2013).
Sebelumnya, dalam wawancara dengan Reuters, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui, bahwa inflasi tahunan masih tinggi. Melonjak menjadi 8,79 persen pada Agustus, dari 8,61 persen pada Juli.
"Kami telah melihat deflasi pada pekan pertama (September) ... inflasi bulan ini akan sangat rendah," ujarnya, sambil menambahkan hal ini sebagai faktor perlambatan permintaan domestik dan langkah-langkah untuk menangani harga pangan.
Dia memperkirakan defisit transaksi berjalan yang mencapai 4,4 persen dari PDB pada kuartal kedua, kecenderungan akan turun pada kuartal ketiga. Keprihatinan atas transaksi berjalan telah menjadi faktor utama menekan rupiah dalam beberapa pekan terakhir.
(
dmd)