TEMPO.CO, Jakarta - Rencana kerja sama PT Erajaya Swasembada Tbk dengan perusahaan elektronik asal Cina, Hon Hai Precision Industry Co (Foxconn Technology Group), belum final. Direktur Erajaya Sim Chee Ping mengatakan masih mengkaji rencana kerja sama itu. "Foxconn punya skala investasi yang jauh lebih besar," ujarnya Senin 26 Mei 2014. (Baca juga : Demo Anti-Cina, Pabrik Foxconn di Vietnam Tutup)
Menurut Sim, Erajaya ahli dalam distribusi handset, bukan dalam perakitan telepon genggam. Karena itu Erajaya akan mengkaji kesiapan kerja sama investasi di bidang perakitan. Saat ini Erajaya masih dalam tahap penjajakan dan belum ada pembatalan rencana kerja sama dengan pemasok utama komponen Apple Inc tersebut.
Sim menambahkan, Erajaya selama ini sudah mendistribusikan produk Foxconn, di antaranya Blackberry Z3. Meski kerja sama itu belum pasti, Erajaya berencana membuka pabrik perakitan gadget pada tahun ini. Selain itu, Erajaya melakukan penjajakan dengan beberapa perusahaan yang ahli dalam produksi alat komunikasi. "Kemungkinan akan bekerja sama dengan produsen asal Batam. Nilai investasinya di bawah Rp 50 miliar," katanya.
Pendirian pabrik perakitan tersebut bertujuan mengembangkan produk Erajaya, yaitu Venera, dan juga produk gadget lokal lainnya. Menurut Sim, saat ini prosesnya dalam tahap studi kelayakan untuk diimplementasikan dua bulan mendatang. (Lihat juga : Blackberry Perluas Pasar dengan Foxconn)
Pada 7 Februari lalu, Hon Hai menandatangani perjanjian letter of intent (LoI) dengan pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk berinvestasi di Jakarta. Chairman Hon Hai, Terry Gou, menandatangani perjanjian itu dengan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo. Seorang sumber Foxconn menyebutkan Hon Hai akan berinvestasi sedikitnya US$ 1 miliar dalam 3-5 tahun mendatang.
Seperti dilansir kantor berita Reuters, Foxconn menunda proses investasinya di Indonesia hingga Oktober, menunggu pemerintahan yang baru. Perseroan berencana mengajukan proposal konkret ke Indonesia dalam tiga bulan sejak penandatanganan LoI. "Namun diskusi kami dengan pemerintah Indonesia menemui jalan buntu sejak pelaksanaan pemilu legislatif pada April lalu," ujar sumber itu. (Berita terkait : Tak Jelas, Investasi Foxconn Dipertanyakan)
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Mahendra Siregar mengatakan Foxconn masih mencari mitra. BKPM sudah mengeluarkan izin bagi Foxconn untuk berinvestasi. Namun, soal mitra bisnis, BKPM tidak bisa ikut campur dalam proses business to business itu. "Kalau mencari mitra, kami cuma bisa memberi saran, dan mereka yang mencari kecocokan," ujarnya.
Direktur Utama PT Kawasan Berikat Nusantara Sattar Taba mengatakan telah beberapa kali berkomunikasi dengan Foxconn. Pertemuan itu berlangsung di Jakarta dan Taiwan. Sayangnya, belum ada kesepakatan apa pun.
Sebelumnya Foxconn meminta diberi fasilitas mendapatkan lahan untuk pembangunan pabriknya di Jakarta. Lokasi yang dipilih adalah Marunda, yang masuk Kawasan Berikat. Namun pengelola Kawasan Berikat berkukuh tidak akan memberikan lahannya secara gratis.
HERMAWAN SETYANTO | MARIA YUNIAR | ANANDA PUTRI
Terpopuler :
Chevron Ancam Alihkan Rencana Investasi US$ 12 M
CT: Penerimaan Pajak Turun Maksimal Rp 50 Triliun
Besok, CT Panggil Freeport dan Newmont
This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.