Sebagian warga tidak peduli
China diprediksi salip ekonomi AS lebih cepat
Kamis, 1 Mei 2014 − 18:25 WIB
Facebook
Twitter
Google+
Pinterest

Ilustrasi/Foto: Istimewa
Sindonews.com - China siap mengambil alih posisi Amerika Serikat (AS) sebagai ekonomi terbesar di dunia lebih cepat dari perkiraan. Namun, kabar itu tidak membuat beberapa orang di China gembira. Mereka lebih suka memiliki udara bersih dan kebebasan.
Dilansir dari Channel News Asia, Kamis (1/5/2014), Bank Dunia menerbitkan sebuah studi besar tentang peringkat penciptaan kekayaan nasional atas dasar angka pada 2011.
Hal itu dilakukan dengan beberapa organisasi internasional untuk membandingkan angka produksi nasional secara nominal dan juga mencerminkan perbedaan dalam daya beli atau paritas daya beli (purchasing power parity/PPP).
Produk domestik bruto (PDB) Amerika Serikat pada 2011 tercatat sebesar USD15,533 triliun, lebih dari dua kali China USD7,321 triliun. Namun, setelah disesuaikan PPP, angka untuk China naik menjadi USD13,495 triliun, berarti raksasa Asia itu bisa menyalip AS lebih cepat.
Pemerintah komunis di masa lalu mengecilkan pembicaraan, mereka tertarik bukan untuk menekankan secara per kapita, warga di sana tetap jauh di belakang negara-negara terkaya di dunia. Tapi ada skeptisisme, dan sinisme di antara pengguna media sosial di China.
"Mereka berbicara tentang PPP, bukan PDB. Selama ini PDB China masih jauh di belakang AS," tulis salah seorang pengguna media sosial Sina Weibo, media Twitter versi China.
Beberapa pengguna Weibo menyampaikan lebih tertarik pada indikator nyata berkaitan dengan kualitas hidup. "Berpenghasilan rendah, tidak bisa bernapas bebas, tidak ada kebebasan, mengapa saya harus peduli. Bahkan jika jadi No 1 di alam semesta? Belum lagi No 1 di bumi," tulis seorang pengguna yang lain.
Gebrakan ekonomi China membawa masalah pada lingkungan, dengan sebagian besar negara berulang kali diselimuti kabut asap tebal, serta saluran air dan tanah yang tercemar.
Salah satu pengguna Weibo menyatakan, peringkat seperti itu lebih diawasi ketat di luar negeri daripada di China. "Tidak ada laporan tentang negeri ini, hanya media asing selalu berbicara tentang hal itu," tandasnya.
(dmd)
views: 75xThis entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.