Ilustrasi: (Foto: Reuters) JAKARTA - Keuangan syariah dan industri halal terutama terkait makanan dan gaya hidup (lifestyle) halal (fashion, pariwisata, farmasi, kosmetik, dan media/rekreasi), tengah menjadi fenomena global karena pesatnya pertumbuhan kedua industri tersebut. Sayangnya, konektivitas atau jalinan keuangan syariah dan industri lifestyle halal justru belum berpadu dengan mulus.
Berdasarkan data DinarStandard, dari sebanyak 340 transaksi investasi di segmen pangan dan pertanian di negara-negara OKI (Organisasi Konferensi Islam) sepanjang tahun 2011-2013 yang mencapai USD14,9 miliar hanya 17 transaksi dengan nilai USD22 juta yang berhubungan dengan perusahaan makanan halal dilaporkan dunia.
Karena itulah, DinarStandard sebagai sebuah perusahaan penelitian strategi pertumbuhan dan advisory yang mengkhususkan diri dalam ekonomi Islam global berupaya keras untuk memadukan sinergi antara keuangan syariah dan industri gaya hidup halal.
"Saya sangat gembira untuk memimpin DinarStandard untuk memenuhi kebutuhan para pemangku kepentingan dalam enam sisi ekonomi gaya hidup Islami yang bernilai USD1,62 triliun dengan konektivitas ke industri keuangan syariah," Kata ketua DinarStandard Rushdi Siddiqui dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Kamis (1/5/2014).
Sebagai informasi, riset dari DinarStandard yang dikeluarkan akhir tahun lalu menunjukan bahwa potensi pasar sektor makanan dan gaya hidup halal global menembus USD1,62 triliun pada tahun 2012 dan diperkirakan akan meningkat menjadi USD2,47 pada tahun 2018.
Khusus di wilayah Asia Timur, pasar konsumen gaya hidup Islami domestik terbesar adalah Indonesia, Malaysia, Tiongkok, Singapura dan Filipina, dengan total potensi pasar USD294 miliar pada tahun 2012, dan diperkirakan akan menyentuh USD494 miliar pada tahun 2018. Namun, sebagian besar pasar ini berada di Indonesia dengan pasar gaya hidup Islam diperkirakan sebesar USD235 miliar (2012). (Maesaroh/Koran SI/rzy)
Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.