Rabu, 28 Mei 2014

Home » Metrotvnews.com Syndication: Media Massa Jangan Jadi Mesin Foto Kopi

,
Metrotvnews.com Syndication
Indonesian News Video Portal 
The Next Generation in Online Meetings

GoTo Webinar is a new, affordable, do-it-yourself Web event service that doesn't require a consultant. Get $10 off after your complimentary trial.
From our sponsors
Media Massa Jangan Jadi Mesin Foto Kopi
May 27th 2014, 21:15

Luhur Hertanto - 28 Mei 2014 04:15 wib
Ilustrasi: Corbis.com

Ilustrasi: Corbis.com

RELATED TOPIC

Metrotvnews.com, Jakarta: Media massa adalah instrumen penting bagi demokrasi. Media juga menjadi ujung tombak dalam setiap peristiwa yang terjadi, termasuk Pilpres 2014. Untuk itu media semestinya menyajikan berita yang faktual dan berimbang.

"Media massa harus mempunyai kemampuan menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi, tidak boleh bohong, tetapi perlu juga melihat tahapan-tahapannya. Kadang-kadang kebenaran itu tidak bisa disampaikan sekaligus. Tidak manipulatif. Sebenarnya untuk masyarakat kita, asal tahu suguhannya ini A, ini B, ini C, sehingga ada pilihan. Jangan sampai tidak seimbang," tutur pakar komunikasi politik Bachtiar Aly dalam keterangan tertulis yang diterima Metrotvnews.com, Selasa (27/5/2014) malam.

Bachtiar yang juga pernah menjabat Duta Besar Indonesia untuk Mesir ini mengatakan, masyarakat harus mendapatkan kondisi sebenarnya dari sebuah peristiwa apa adanya. Masyarakat tidak boleh dicekoki dengan informasi sepihak dan dipaksa menyantap apa adanya.

"Meskipun demikian, media massa juga jangan menjadi mesin foto kopi, tetapi harus ada kemampuan memberikan kontribusi. Pernyataan yang provokatif bisa membuat runyam. Pers tidak perlu galau. Sebaliknya, menyembunyikan terlalu banyak lalu suatu kali diungkapkan, itu kan berbahaya," ucap Bachtiar yang juga Ketua Dewan Pakar NasDem.

Dalam pandangannya, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengembalikan nilai-nilai keindonesiaan guna membangun negara ini ke arah yang lebih baik di masa mendatang.

"Kita membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengembalikan nilai-nilai keindonesiaan untuk membangun bangsa dan negara ini  ke arah yang lebih baik, setidaknya masa lima tahun ke depan. Selain itu, siapapun nantinya yang akan memimpin Indonesia maka harus menanggalkan politik balas dendam. Dengan menghapus politik balas dendam maka bangsa ini bisa dibangun bersama dengan segenap komponen bangsa yang plural," ucap mantan Ketua Dewan Guru Besar Universitas Indonesia ini.

Bachtiar juga menyoroti banyaknya persoalan pelik saat ini diakibatkan memudarnya nilai-nilai keidonesiaan. "Sebagai negara yang berbhineka, nilai-nilai ke Indonesiaan itu sangat perlu dalam membangun bangsa yang besar ini dengan segala potensi yang dimiliki. Sehingga Indonesia menjadi sebuah negara kuat dan dan besar di mata dunia," ucap caleg Partai NasDem dari Dapil Aceh I yang terpilih sebagai anggota DPR RI periode 2014-2019 ini.

(Jri)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions