Liputan6.com, Jakarta - Industri penerbangan Indonesia dalam kurun waktu hampir satu tahun ini sedang mengalami tekanan yang luar biasa. Selain depresiasi nilai tukar rupiah, tingginya harga avtur juga menjadi penyebab meningkatnya biaya operasional pesawat.
Akibatnya, kinerja 2013 yang seharusnya menjadi titik balik para maskapai untuk meningkatkan pendapatan justru diakhiri dengan pencatatan keuangan yang merugi. Bahkan beberapa maskapai terpaksa tumbang.
Namun, ada beberapa maskapai yang mampu untuk bertahan. Salah satunya adalah Sriwijaya Air. Maskapai tersebut mengaku berhasil bertindak cepat dan menyusun strategi demi mencegah keterpurukan.
Setidaknya ada tiga hal yang dilakukan manajemen Sriwijaya untuk mengatasi krisis tersebut.
"Pertama, dari pesawat kami sejumlah 38 pesawat itu kami operasikan hanya 30 pesawat, 8 pesawat kami grounded-kan, ini untuk memilah mana rute yang tidak baik, stop dulu, itu langkah pertama," ungkap Direktur Komersial Sriwijaya, Toto Nursatyo seperti yang ditulis, Rabu (9/7/2014).
Toto mengungkapkan hingga saat ini, dengan tidak dioperasikannya delapan pesawat tersebut setidaknya ada tiga rute domestik yang ditutup oleh Sriwijaya yaitu Jakarta-Aceh, Jakarta-Pekan Baru, dan Jakarta-Palangkaraya.
Tak mau dibebani biaya perawatan pesawat yang tidak dioperasikan, manajemen Sriwijaya langsung mengambil keputusan untuk membuka rute-rute internasional. Tak tanggung-tanggung, maskapai tersebut langsung membuka rute ke tiga kota di China yaitu Hangzhou, Ningbo dan Nanking.
"Di sana dalam waktu sekian bulan kami mengejar pelanggan, ini bisa tercapai, sehingga sekarang ini 2-3 pesawat sudah tebang ke China dan revenue 15 persen pendapatan kami dari dolar, ini sangat berguna bagi keuangan," tegas Toto.
Sementara untuk strategi ketiga yang dilakukan Sriwijaya adalah dari sisi manajemen. Mulai awal tahun Sriwijaya melakukan renegosiasi kontrak dengan beberapa pihak terkait untuk menciptakan efisiensi operasional, termasuk salah satunya kepada para pegawainya.
"Alhamdulillah saat ini Sriwijaya sudah recovery dari kesulitan itu, dan saat ini kami optimis ke depan untuk mengekspansi kembali rute yang baru. Krisis ini membuat kami jadi kuat dan lebih optimis terhadap masa depan," pungkas Toto. (Yas/Gdn)
(Arthur Gideon)
This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.