Jumat, 27 Juni 2014

Home » Tempo.co News Site: BI: Fluktuasi Rupiah Masih Tergolong ‘Halus’

,
Tempo.co News Site
daily news from tempo.co 
46% Will Die Broke!

Are You a Baby Boomer? 46% will die broke. Don't become a statistic! Get your FREE "Retirement Kit" Today AVOID this unfortunate fate. Instant download available!
From our sponsors
BI: Fluktuasi Rupiah Masih Tergolong ‘Halus’
Jun 26th 2014, 20:17

BI: Fluktuasi Rupiah Masih Tergolong ‘Halus’

Pegawai menunjukkan uang di sebuah Money Changer di Jakarta, Rabu (03/02). Rupiah hari ini ditutup pada level 9.395 per dolar Amerika, atau kembali menguat 70 poin dibandingkan posisi sehari sebelumnya di 9.365. TEMPO/Dinul Mubarok

Berita Terkait

TEMPO.CO , Jakarta: Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Peter Jacobs, menyatakan bank sentral dalam jangka pendek belum melihat adanya hal-hal yang drastis terjadi dan membutuhkan intervensi khusus. "(Fluktuasi kurs rupiah) Masih tergolong halus," ujarnya, di Gedung Bank Indonesia, Kamis, 26 Juni 2014.

Ia mengungkapkan, intervensi baru akan dilakukan Bank Indonesia jika gangguan berasal dari sisi fundamental. "Intervensi dilakukan ketika dibutuhkan, sifatnya situasional," kata Peter. (Baca: Beberapa Faktor Penyebab Pelemahan Rupiah)

Untuk itu, Bank Indonesia akan tetap hadir di pasar dan terus melihat perkembangan yang ada. Fluktuasi pelemahan dan penguatan rupiah yang terlalu tinggi ataupun rendah akan lebih mengkhawatirkan Bank Indonesia jika terjadi secara drastis.

Lebih jauh Peter menilai pelemahan kurs rupiah yang terjadi belakangan ini hingga melewati Rp 12.000 per dolar AS bukan karena dinamika politik di dalam negeri. "Ini lebih karena month end demand yang menular ke (harga) minyak. Lebih karena eksternal," tuturnya. (Baca: Bank Indonesia: Melemahnya Rupiah Tidak Buruk)

Yang dimaksud dengan month end demand adalah kenaikan permintaan valuta asing di akhir bulan. Selain itu, menurut dia, masih tingginya harga minyak mentah juga berpengaruh pada pelemahan rupiah.

Sebab, semakin tinggi harga minyak mentah, kebutuhan terhadap subsidi minyak menjadi lebih besar. Adapun penyebab kenaikan harga minyak itu di antaranya karena adanya konflik di Irak. Oleh karena itu, menurut Peter, investor memperkirakan defisit bakal semakin besar di masa yang akan datang.

Pada Kamis lalu (26 Juni 2014), situs resmi Bank Indonesia mencatat kurs tengah rupiah berada di level Rp 12.091 per dolar AS. Nilai tersebut melemah dibandingkan sehari sebelumnya sebesar Rp 12.027 per dolar AS.

MAYA NAWANGWULAN

Berita terpopuler:
FSRU Lampung Alirkan Gas ke Industri
Jelang Puasa, Penukaran Uang di Tegal Meningkat
Ini Tiga Tantangan Bisnis Properti di 2014
Hari Ini Pasar Murah di Kemendag Dibuka

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions