Ilustrasi emas. (Foto: Okezone)
NEW YORK - Emas global menguat, setelah data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) ternyata lebih rendah dari yang diharapkan. Pelemahan data ini telah memukul dolar AS, dan membuat para investor beralih pada aset safe haven lainnya, emas.
Namun, kegagalan emas untuk memperpanjang keuntungan terjadi karena beberapa investor mengambil keuntungan, setelah harga mencapai level tertinggi dua bulanan di sesi sebelumnya.
Emas sebagai aset lindung nilai meningkat setelah data menunjukkan ekonomi AS mengalami kontraksi pada kuartal I dari perkiraan sebelumnya, dan menjadi salah satu angka terburuk yang pernah ditunjukkan pada periode non-resesi.
"Pasar membutuhkan washout besar untuk kembali ke level tertinggi. Sekarang itu telah terjadi, dan tidak ada alasan khusus untuk kembali melakukan pembelian," kata kepala analis logam mulia di Marex Spectron, David Govett, seperti dilansir dari Reuters, Kamis (26/6/2014).
Emas telah naik hampir 4 persen dalam empat sesi terakhir ke level tertinggi dua bulanan di USD1.325,90 per ounce. Harga emas naik karena konflik Irak yang meningkat dan dirasakan kurangnya komitmen Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.
Emas jenis Spot naik USD2,25 atau 0,2 persen ke USD1.319,85 per ounce. Sementara emas berjangka, Comex Gold, untuk pengiriman Agustus ditutup naik USD1,30 atau 0,1 persen ke USD1.322,60 per ounce, dengan volume perdagangan sekitar 10 persen di bawah rata-rata 30-hari perdagangan.
Permintaan untuk emas sangat tinggi di Asia, tempat utama bagi konsumen logam fisik, namun para dealer melaporkan bahwa sensitivitas harga telah menunda oleh rally. (mrt)
Download dan nikmati kemudahan mendapatkan berita melalui Okezone Apps di Android Anda.