Kamis, 26 Juni 2014

Home » Berita Harian Bisnis, Ekonomi, Pasar Modal Dan Perbankan Indonesia: Rupiah Dobrak Level 13 Ribu, Ekonomi RI Bisa Kacau

,
Berita Harian Bisnis, Ekonomi, Pasar Modal Dan Perbankan Indonesia
Berita Bisnis Liputan6.com menyajikan kabar berita terkini dunia bisnis dan investasi, ekonomi, pasar modal hingga perbankan Indonesia 
45% Will Die Broke

Are You a Baby Boomer? 45% will die broke. Don't become a statistic! Get your FREE "Retirement Kit" today and discover how to AVOID this unfortunate fate.
From our sponsors
Rupiah Dobrak Level 13 Ribu, Ekonomi RI Bisa Kacau
Jun 26th 2014, 02:47, by Fiki Ariyanti

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus terpuruk hingga menyentuh level Rp 12.027 pada perdagangan kemarin (25/6). Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa kurs rupiah berpotensi tembus Rp 13 ribu per dolar AS.

Menurut Pengamat Valas Farial Anwar, hal itu bisa terjadi jika Bank Indonesia (BI) dan pemerintah tak mampu mengendalikan kurs rupiah dengan intervensinya.

"Kalau BI dan pemerintah tidak bisa mengendalikan masalah ini, nilai tukar rupiah bisa saja mencapai Rp 13 ribu per dolar AS. Tapi saya berharap tidak," ungkap dia saat berbincang dengan Liputan6.com di Jakarta, seperti ditulis Kamis (26/6/2014).

Farial beralasan, apabila kurs rupiah berada di level Rp 13 ribu per dolar AS, maka akan mengancam perekonomian Indonesia. Sebab level tersebut sudah sangat jauh melenceng dari fundamental atau level psikologis rupiah.

"Kalau kondisinya seperti itu akan sangat mengacaukan Indonesia. Tidak benar jika pergerakan rupiah ini sesuai fundamentalnya. Ini level yang ngawur dan mengganggu ekonomi Indonesia," tegasnya.

Lebih jauh dia menggambarkan kekacauan yang akan terjadi jika rupiah terus tertekan, seperti barang impor akan menjadi lebih mahal, utang dalam bentuk valas semakin membengkak dan berpotensi meningkatkan kredit macet perbankan.

"Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) kita juga akan membengkak, karena dolar semakin mahal bisa berimbas ke anggaran subsidi. Akhirnya berdampak ke laju inflasi, dan rakyat jadi korban. Utang luar negeri pemerintah juga meningkat," terang Farial.

Untuk itu, dia mengimbau agar BI dan pemerintah dapat berkoordinasi mensingkronkan kebijakan yang ada. Sebagai contoh BI harus menjalankan bauran kebijakan moneter dan bukan mengandalkan cadangan devisa (cadev). Selain itu, merealisasikan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang.

"Sedangkan dari pemerintah bisa segera mengeluarkan insentif repatriasi supaya nggak ada aliran dolar ke luar negeri. Memarkir devisa hasil ekspor ke Singapura. Jadi harus ditahan dengan sebuah kebijakan yang tepat," tandas Farial. (Fik/Ndw)

(Nurseffi Dwi Wahyuni)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions