Sabtu, 28 Juni 2014

Home » Berita Harian Bisnis, Ekonomi, Pasar Modal Dan Perbankan Indonesia: 3 Perbedaan Workaholic dan Pegawai Teladan

,
Berita Harian Bisnis, Ekonomi, Pasar Modal Dan Perbankan Indonesia
Berita Bisnis Liputan6.com menyajikan kabar berita terkini dunia bisnis dan investasi, ekonomi, pasar modal hingga perbankan Indonesia 
Great rates not enough?

OptionsHouse is a cutting-edge platform with award-winning technology. Even with our professional tools, you'll still pay great rates.
From our sponsors
3 Perbedaan Workaholic dan Pegawai Teladan
Jun 27th 2014, 20:30, by Siska Amelie F Deil

Liputan6.com, New York - Mencurahkan seluruh perhatian untuk bekerja ternyata tidak selalu berdampak baik. Hal itu dapat ditunjukan para pegawai teladan dan workaholic di kantor.

Mengutip laman Business Insider, Sabtu (28/6/2014), workaholic kadang menunjukkan ciri yang sama dengan para pegawai teladan. Faktanya kedua jenis pegawai tersebut sama sekali tidak mirip.

Meski keduanya sama-sama bekerja keras, workaholic cenderung terlihat tidak bahagia dan kewalahan dalam menyelesaikan berbagai tugasnya. Lebih jelasnya, berikut tiga perbedaan workaholic dan pegawai teladan di tempat kerja:

1. Pegawai teladan mengenali kemampuannya

Pegawai teladan mengenali dan memahami kemampuan sendiri sehingga selalu mampu bekerja dengan bebas. Sementara workaholic bekerja dengan bergantung pada validasi eksternal di sekitarnya, yaitu atasan dan rekan kerja.

Para workaholic bahkan harus menunggu hasil evaluasi dari kantor untuk mengenali seberapa baik kinerjanya. Sementara pegawai teladan memahami dengan baik performanya di kantor.

2. Workaholic tak kenal waktu kerja

Berbeda dengan workaholic, para pegawai teladan tahu kapan untuk bekerja keras dan berhenti. Bahkan dirinya selalu tahu kapan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan sebuah tugas.

Jika workaholic bekerja dengan memberikan 110 persen waktunya, pegawai teladan membagi tepat 100 persen waktunya. Para pegawai teladan selalu fokus meningkatkan kapasitas kerjanya agar 100 persen tadi jauh lebih baik dari 110 persen yang digulirkan workaholic.

Workaholic selalu mencoba tampil baik kapanpun sehingga sulit menentukan prioritas.

3. Pegawai teladan bekerja, workaholic hanya terlihat sibuk

Tujuan utama para pegawai teladan adalah menuntaskan pekerjaannya. Hasil dan proses memiliki tempat yang penting dalam mencapai berbagai tujuannya.

Sementara yang paling penting bagi para workaholic adalah terlihat sibuk kapanpun. Mengapa? Karena dirinya merasa tidak enak jika tidak melakukan apapun. (Sis/Nrm)

(Nurmayanti)

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Media files:
kerja-lembur.jpg
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions