Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terus tertekan dalam sepekan ini karena sentimen internal maupun eksternal. Pergulatan politik di dalam negeri ditambah dengan konflik geopolitik di Irak terus memperkeruh pergerakan rupiah yang telah melemah karena faktor fundamenta;.
Mengutip data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, Jumat (27/6/2014), rupiah mengalami koreksi 12 poin ke level 12.103 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Level tersebut melanjutkan pelemahan rupiah sehari sebelumnya.
Data valuta asing Bloomberg juga menunjukkan pelemahan serupa. Rupiah dibuka melemah di level Rp 12.105 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Hingga menjelang siang, rupiah masih bergerak di kisaran Rp 12.095 per dolar AS hingga Rp 12.110 per dolar AS.
"Rupiah melemah selama sepekan terakhir karena banyak sekali faktor yang menjadi tekanan untuk pergerakannya, mulai dari faktor fundamental seperti transaksi berjalan hingga faktor psikologis seperti konflik di Irak," terang Ekonom Standard Chartered Eric Alexander Sugandi saat berbincang dengan Liputan6.com, Jumat (27//6/2014).
Dia menjelaskan, salah satu faktor fundamental penyebab pelemahan rupiah seharusnya selesai mempengaruhi pergerakan mata uang tersebut akhir bulan ini. Meski demikian, dia memperkirakan itu tidak akan cukup untuk mendongkrak rupiah.
"Seharusnya pengaruh repatriasi dividen sudah berakhir ya akhir bulan ini. Karena memang hitungan kami, itu hanya akan berlangsung hingga akhir kuartal dua. Aktivitas tersebut akan berhenti menekan rupiah," jelasnya.
Eric menuturkan, dibandingkan dengan faktor fundamental, terdapat faktor teknikal yang juga harus diperhitungkan karena mempengaruhi pergerakan rupiah harian. Terlebih lagi, faktor sentimen ini memberikan tekanan yang lebih kuat pada pergerakan nilai tukar rupiah jika dibandingkan dengan faktor fundamental.
Berikut dua faktor psikologis yang kini tengah menyebabkan lesunya pergerakan rupiah:
1. Konflik Geopolitik di Irak
Konflik geopolitik yang terjadi di Irak diperkirakan mampu menjadi tekanan yang cukup berat untuk nilai rupiah. Pasalnya, kenaikan harga minyak yang terjadi di Irak sangat dikhawatirkan para pelaku pasar di berbagai negara.
"Konflik itu kan membuat banyak pelaku pasar ketakutan. Itu menyebar hingga ke Indonesia dan menyebabkan nilai tukar rupiah terkena dampak negatifnya," ujar Eric.
2. Pertempuran Politik jelang Pemilu
Eric memaparkan, pergolakan politik menjelang pemilu kian memanas seiring mengetatnya daya saing dan potensi terpilihnya kedua calon presiden, Prabowo dan Jokowi. Ketatnya daya saing kedua capres tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri di kalangan pasar.
"Kita lihat pada awal tahun, para pelaku pasar optimis Jokowi akan menang mutlak, tapi kenyataannya pada April, PDI-P yang merupakan partai tempat Jokowi bernaung ternyata hanya berhasil menang 19 persen suara," terangnya.
Dia menjelaskan, tingkat elektabilitas Prabowo justru semakin meningkat hingga persaingan memperebutkan kursi RI-1 itu akan berlangsung sengit dan sangat ketat. Para pelaku pasar membaca kondisi tersebut dan mulai melakukan penyesuaian dan langkah antisipasi.
"Sekarang para pelaku pasar mulai melakukan sejumlah penyesuaian dengan mulai menyimpan dolar AS secara bertahap. Itu merupakan langkah persiapan menghadapi kejutan politik yang muncul setelah pemilu," ujarnya.
Lebih jauh dia menerangkan, terpilihnya salah satu calon presiden juga akan menghentak pergerakan rupiah. Namun begitu, rupiah tidak akan melemah terlalu jauh atau menguat terlalu tinggi karena para pelaku pasar telah melakukan sejumlah antisipasi.
"Jika Jokowi terpilih sesuai dengan ekspektasi pasar, maka rupiah akan menguat tipis. Tapi jika Prabowo terpilih, rupiah akan melemah tipis. Tapi rupiah tidak akan terbang atau bergerak terlalu jauh," tandasnya. (Sis/Gdn)
(Arthur Gideon)
This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.