Kamis, 01 Mei 2014

Home » SINDOnews Ekonomi dan Bisnis Feed: Ini kerangka asumsi makro untuk 2015

,
SINDOnews Ekonomi dan Bisnis Feed
Menyajikan informasi terpercaya seputar pasar modal, ekonomi makro, sektor riil, ekonomi dunia, dan indeks saham. 
Grow your customer base.

Start a lead gen campaign on LaunchBit and cost-effectively grow your company today!
From our sponsors
Ini kerangka asumsi makro untuk 2015
May 1st 2014, 12:19, by SINDOnews

Facebook

Twitter

Google+

Pinterest

Ini kerangka asumsi makro untuk 2015

Ilustrasi/Foto: Istimewa

Sindonews.com - Perekonomian Indonesia 2015 masih akan dibayangi ketidakpastian perekonomian global menyusul rencana pemotongan stimulus (tapering off) di Amerika Serikat serta ancaman pelemahan ekonomi China.

Dari dalam negeri, perekonomian juga masih dibayangi pengetatan moneter akibat suku bunga yang tinggi. Berbekal dasar itu, pemerintah pun menyusun kerangka asumsi dasar ekonomi makro dengan lebih pesimis.

Range pertumbuhan ekonomi untuk 2015 hanya ditargetkan di kisaran 5,5-6,3 persen. Range bawah sebesar 5,5 persen bahkan lebih rendah dibandingkan dengan outlook pertumbuhan 2014 yakni 5,8 persen.

Pesimisme juga muncul dalam asumsi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Untuk 2015, nilai tukar rupiah ditargetkan pada kisaran Rp11.500-12.500/USD. Jauh lebih pesimis dibandingkan outlook nilai tukar rupiah 2014 yang berada di angka Rp11.500-12.000.

Untuk inflasi, target pada 2015 berada di angka 3-5 persen, jauh lebih optimis dibandingkan target inflasi 2014 yang berada di angka 4,5 ± 1 persen.

Harga minyak mentah (Indonesia Crude Price/ICP) berada di level USD100-105 /barel, lifting minyak ditargetkan berada di kisaran 830.000-900.000 barel per hari, lifting gas 1,225-1,250 juta barel setara minyak sementara tingkat bunga surat perbendaharaan (SPN) 3 bulan sebesar 5,5-6 persen.

Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengingatkan, sampai tahun depan, nilai tukar rupiah memang masih sangat dipengaruhi faktor fundamentalnya yakni defisit transaksi berjalan. Karena itulah, nilai tukar rupiah sulit kembali ke level Rp9.000-10.000/USD seperti 2011 dan 2012.

"Kita dulu pernah Rp9.000-10.000/USD karena ada commodity price boom sehingga defisit transaksi berjalan surplus. Perkiraan kita commodity boom price tidak akan terjadi dalam waktu dekat," papar Bambang.

Dengan ketiadaan commodity price boom maka defisit transaksi berjalan kemungkinan akan stabil di angka 2-2,5 persen terhadap PDB (produk domestik bruto). "Itu senada dengan nilai tukar Rp11.000-11.500. Sementara sampai Rp11.500/USD lah," tandasnya.

Berikut kerangka asumsi dasar ekonomi makro untuk 2015:

(gpr)

views: 64x

This entry passed through the Full-Text RSS service — if this is your content and you're reading it on someone else's site, please read the FAQ at fivefilters.org/content-only/faq.php#publishers.

Media files:
OrMW5RB2Vn.jpg (image/jpeg)
You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions