Harga minyak dunia kembali tertekan
Jum'at, 25 Oktober 2013 − 19:27 WIB

Ilustrasi/Foto: Istimewa
Sindonews.com - Harga minyak mentah Brent terjerambab ke posisi terendah dalam tiga bulan, menambah tekanan pada komoditas global karena para pedagang cemas atas melemahnya permintaan di Amerika Serikat (AS).
Harga minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Desember, turun menjadi USD106,52 per barel - menyentuh level yang terakhir terlihat pada 9 Agustus lalu. Harga berdiri di angka USD106,83 per barel, turun 16 sen pada penutupan Kamis (waktu setempat).
Sementara kontrak utama New York, minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember, naik 33 sen menjadi USD97,44 per barel. Namun, WTI juga telah ditempa serangkaian titik terendah multi-bulanan pekan ini, karena meningkatnya cadangan AS memicu kekhawatiran atas kekuatan permintaan energi Amerika, yang memukul harga.
"Harga berada di bawah tekanan kenaikan stok minyak AS," kata Lucy Sidebotham, analis energi Inenco, Inggris, mengacu pada kerugian pasar minyak pekan ini, seperti dilansir dari AFP, Jumat (25/10/2013).
Departemen Energi AS (DoE) melaporkan cadangan minyak mentah Amerika telah meningkat sebesar 5,2 juta barel dalam pekan yang berakhir 18 Oktober. Sebelumnya, DoE pada Senin (21/10/2013) mengumumkan, laporan lambat akibat penutupan sementara (shutdown) pemerintah AS, persediaan minyak mentah melonjak 4,0 juta barel untuk pekan yang berakhir 11 Oktober.
"Stok minyak AS telah tumbuh sekitar 22 juta barel selama empat pekan terakhir," ujar Sidebotham.
Pasar minyak sepanjang pekan ini juga terpengaruh data non-farm payrolls AS. Data penting sebagai indikator ekonomi AS ini hanya menambah 148.000 pekerjaan pada bulan lalu, jauh lebih kecil dari perkiraan 183.000.
Berbeda dengan prospek AS yang lemah, data manufaktur China, yang merupakan konsumen minyak global terbesar kedua di dunia, mengalami kenaikan. Data awal HSBC menunjukkan indeks manajer pembelian (PMI) China pada bulan ini sebesar 50,9 poin, meningkat dari September 50,2 poin, sebagai tingkat tertinggi sejak Maret.
Indeks aktivitas manufaktur di pabrik-pabrik China merupakan indikator yang diawasi ketat dari kesehatan ekonomi negeri Tirai Bambu itu. Angka di atas 50 menunjukkan pertumbuhan, sementara di bawah kontraksi.
(
dmd)
Sindonews Apps : 